PSSI, Biarkan Kami Bermimpi (Lagi) Bersama Pelatih Ini !

PSSI, Biarkan Kami Bermimpi (Lagi) Bersama Pelatih Ini !

Indonesia – Nama Luis Milla bergema dengan riuh di linimasa saya sejak Jumat (24/8) kemarin. Kekalahan dramatis atas Uni Emirat Arab membuat posisi Milla rawan.


Kontraknya sendiri berakhir di akhir Agustus 2018 ini. Berdasarkan hasil di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018, posisi tawar Milla memang tak baik.

Eks pelatih Spanyol U-21 ini bukan pelatih sembarangan. Dia pernah terbukti sukses memoles pesepak bola sekelas Thiago Alcantara hingga Isco Alarcon.

Kalau saja trayek kariernya tidak berbelok ke Nusantara, bisa jadi, ia akan mengikuti jejak Julen Lopetegui yang kini menukangi Real Madrid.

Milla datang ke Indonesia dengan segenap optimisme. Dulu, Edy Rahmayadi yakin sekali bahwa ini saatnya Indonesia melakukan langkah ‘Spanyolisasi’, frasa yang ia pilih saat menunjuk Luis Milla sebagai pelatih timnas Indonesia di Januari 2017 lalu.

Seiring berjalannya waktu, PSSI dan jajarannya kemudian mengembangkan filosofi mereka sendiri. Filosofi itu sendiri diberi nama Filanesia.

Kali ini, semua bukan tentang Filanesia. Ini tentang Luis Milla. Saya mengamati kiprah timnas di bawah asuhan Milla dalam dua pagelaran akbar.

Pertama, SEA Games 2017. Di pagelaran antar-negara ASEAN tersebut, timnas Indonesia melaju hingga babak semifinal. Di babak empat besar, Garuda Muda takluk 1-0 atas tuan rumah Malaysia.

Tapi, di SEA Games 2017 sudah tampak ciri khas permainan timnas asuhan Milla. Umpan silang dan serangan lewat sayap menjadi primadona.

Selain diperkuat penyerang bongsor macam Ezra Walian dan Marinus Wanewar, timnas juga diberkahi para pelari cepat. Ada Febri Hariyadi, Ilham Udin Armaiyn, hingga Saddil Ramdani di sana.

Nyatanya, timnas tidak bermain seperti timnas Spanyol yang diinginkan Ketua Umum PSSI. Milla membuat Indonesia bermain sesuai kapasitas yang kita miliki.

Di titik ini, Milla mulai mengembangkan sistem yang paling pas dan sesuai untuk kemampuan pemain yang ia pilih.

Ini fase awal yang menyenangkan. Baik, kita kembali gagal merebut medali emas di SEA Games 2017.


Tapi, kita mulai berproses dengan baik. Setapak demi setapak, di bawah kendali eks pelatih Al Jazira ini, kita melaju di jalur yang tepat.

Asian Games 2018 adalah ‘Keberhasilan’ Luis Milla
Target semifinal di Asian Games 2018 oleh PSSI bisa kita maknai dengan dua hal. Pertama, anggaplah, itu sebuah wujud kepercayaan diri.

Wujud self esteem yang paling positif dan tinggi. Tapi kedua, bagaimana kalau itu adalah target yang ngawur dan naif?

Sudahkah PSSI membuat kalkulasi yang matang dan objektif serta screening terhadap kemampuan lawan-lawan lain? Ini masih menjadi misteri.

Baik, dua target untuk Milla, emas SEA Games 2017 dan semifinal Asian Games 2018, gagal tercapai.

Tapi, secara permainan, dalam satu tahun delapan bulan di juru kemudi timnas, Milla sukses.

Memang bukan sukses yang besar, tapi ini adalah kesuksesan berproses. Jalannya masih panjang dan berliku, tapi sudah di jalur yang tepat.

Berikut adalah opini Rochmat Setiawan, analis timnas U-19 Indonesia, tentang Luis Milla.


Sumber


Contact Us

Name

Email *

Message *

Categories

Powered by Blogger.

Arsip Blog